Tradisi Barikan

‘Wong Jawa ojo nganti Ilang Jawane’, pepatah ini yang dikutip oleh Kepala Desa Tulusbesar, Bapak SIrat Yudin, ketika menceritakan tentang tradisi Barikan. Hal ini dimaksudkan untuk menyatakan bahwa dengan berpegangan kuat pada agama Islam, tradisi atau adat budaya-pun perlu dilestarikan secara beriringan. Upacara barikan sedianya dilakukan sebagai wujud rasa syukur dan ungkapan terimakasih dari masyarakat desa terhadap Tuhan dan pada para pendahulu atau sering disebut sebagai generasi ‘babat alas’. Leluhur yang melakukan ‘babat alas’ maksudnya adalah para sesepuh yang  dahulu kala mendirikan desa hingga pada akhirnya bisa menjadi ramai seperti sekarang ini.

Barikan di Desa Tulusbesar dilakukan setiap malam Jumat Legi (Jumat Manis), satu kali per bulan, dengan cara berdoa bersama di punden-punden; berdoa untuk keselamatan desa, dan bersyukur atas kenikmatan dan kesejahteraan diri serta desa. Orang dewasa maupun anak-anak dapat ikut serta dalam upacara ini. Warga yang ikut Barikan akan membawa ‘berkat’ (nasi selamatan) atau jajanan pasar, yang nantinya akan saling bertukar antar peserta upacara, jadi bisa saling berbagi dan merasakan. Meski kegiatan adat tradisional, namun Barikan dapat dikemas dengan baik sehingga menarik minat anak-anak.

Scroll to Top